Selasa, 18 September 2012 - 06:41:37 WIB
PETANI : Profesi Penuh Resiko
Diposting oleh : Mirfano
Kategori: General Issue - Dibaca: 3450 kali

Hidup dengan menjadi petani sebenarnya adalah keputusan yang dahsyat bagi seseorang yang hidup di Jember maupun di daerah-daerah dengan basis SDA sektor pertanian.  Sebab, selain semakin kecilnya luas lahan sawah, petani juga menghadapi dua resiko yaitu resiko produksi dan resiko pasar.  Resiko produksi artinya resiko-resiko ketika proses produksi seperti serangan hama penyakit dan bencana banjir yang dapat menyebabkan rendahnya produksi atau bahkan tidak mampu menghasilkan produksi sama sekali.  Resiko pasar adalah resiko-resiko yang dihadapi pasca panen ketika berhadapan dengan kelembagaan pasar seperti rendahnya harga jual atau sama sekali tidak dapat dijual karena kualitas produksinya sangat rendah dan tidak diterima pasar.  Petani, selain berproduksi juga harus menjual sendiri hasil panennya kepada kelembagaan pasar.  Bagi petani, kelembagaan pasar terkadang familiar tapi terkadang sangat misterius seperti memasuki hutan rimba yang tidak mengenal mana kawan mana musuh
 
Saya akan berikan sebuah ilustrasi betapa profesi petani adalah profesi penuh resiko
 
18 Juli 2012 adalah tanggal yang tidak mungkin dilupakan oleh para petani tembakau di Jember. Pada hari rabu itu hujan turun luar biasa besar selama 18 jam dengan curah hujan 196 mm.  Akibatnya lebih dari 2.000 ha tanaman t6embakau siap panen mengalami kerusakan dan menurut informasi yang ada lebih dari 1.500 ha tembakau gagal panen alias puso.  Belum lagi ratusan hektar tanaman cabe yang mengalami dampak serupa.  Curah hujan 196 mm itu diibaratkan sama dengan hujan sebulan yang dicurahkan sekaligus dalam sehari
 
Kalau saja saya tidak mengikuti pertemuan Komisi Urusasn Tembakau Jember (KUTJ) beberapa bulan lalu mungkin saja saya "melupakan" kejadian yang sempat direlease oleh beberapa media lokal selama beberapa hari berturut-turut.    Kerugian material akibat akibat anomali iklim tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp. 50M dengan kalkulasi investasi usaha tani tembakau rata-rata Rp.25 juta per hektar.  Adapun yang terkena dampak adalah ribuan orang yang terdiri dari petani dan keluarganya, buruh tani, belandang dan para eksportir termasuk buruh gudang termasuk juga pemerintah.  Belum lagi dampak psikososial yang muncul akibat dari gagalnya memperoleh keuntungan usaha yang akan digunakan untuk merayakan lebaran tahun ini.  Ada info beberapa petani berniat 'kendat' (bunuh diri) karena tak kuasa menahan beban
 
Resiko produksi dan resiko pasar akan semakin mendewasakan petani sebagai entrepreneur handal.  Pertanian tetap prospektif sebagai sektor usaha.  Jumlah penduduk mungkin naik dengan deret hitung, tetapi kebutuhan pangan yang menyertainya akan terus meningkat menurut deret ukur.  Petani di Jember adalah petani tangguh, kuat dan berani menghadapi resiko apapun



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

.:: Welcome to Mirfano.com ::.