Kamis, 20 September 2012 - 10:12:54 WIB
Selama 7 tahun jadi Kepala Dinas Koperasi UMKM kelola anggaran Rp.28,2 miliar
Diposting oleh : Mirfano
Kategori: General Issue - Dibaca: 2177 kali

Pada tanggal 1 Agustus 2005, saya dimutasi tugas dari Kepala Bappekab menjadi Kepala Dinas Koperasi UMKM oleh Plt Bupati Jember pada saat itu Pak Masdar.  Mutasi bagi saya adalah hal biasa dalam perjalanan karir saya, karena selama kurun waktu 2001 – 2005 saya mendapat amanah menjadi kepala dinas pada 4 unit kerja  yang berbeda yaitu Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perkebunan, Bappekab dan  Dinas Koperasi UMKM.  Kecuali di Dinas Koperasi UMKM, saya menjabat sebagai kepala dinas paling lama 2 tahun.  Saya tidak mengerti mengapa waktu itu sering sekali dimutasi padahal saya sama sekali tidak pernah meminta atau memohon suatu jabatan kepada bupati.  Dalam perspektif professional saya, jabatan adalah amanah, semua unit kerja prinsipnya sama, meskipun ada perbedaan dalam beban kerja.  Sekarang ini, obsesi saya jadi kenyataan, saya menjadi pejabat pada satu unit kerja (Dinas Koperasi UMKM) dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 7 tahun, alhamdulillah.  Sering tersirat dalam benak saya terkait keberadaan saya selama lebih dari 7 tahun itu sejauh mana memberikan manfaat atas kesejahteraan masyarakat yang harus saya layani

Kepala Dinas secara fungsional adalah penanggungjawab anggaran.  Selama 7 tahun, saya bertanggungjawab atas anggaran senilai Rp. 28,2 miliar yang terdiri dari Rp.13 miliar belanja tidak langsung yang dialokasikan untuk membayar gaji pegawai dan Rp. 15,2 miliar belanja langsung yang dialokasikan untuk belanja modal, kegiatan rutin operasional dan membiayai berbagai kegiatan pembinaan dan pemberdayaan.  Saya tidak hanya bertanggungjawab kepada bupati selaku pejabat yang memiliki otoritas keuangan, saya juga harus bertanggungjawab kepada masyarakat dan yang paling utama adalah saya harus bertanggungjawab kepada Allah SWT.  Saya akan coba mengungkap hal-hal apa saja yang telah saya perbuat dengan anggaran yang menurut saya sangat besar sebagai salah satu bentuk akuntabilitas publik saya kepada masyarakat yang tinggal di Jember

Sejak dilantik menjadi Kepala Dinas Koperasi UMKM, saya berupaya untuk “learning by doing” koperasi secara teknis kepada para pejabat yang ada di Dinas Koperasi, karena terus terang pada saat itu pengetahuan saya tentang koperasi sangat terbatas.  Mungkin karena latar belakangpendidikan saya pertanian IPB.  Tapi alhamdulillah, upaya penyesuaian diri saya di unit kerja baru tersebut tidak terlalu lama sehingga saya bersama teman-teman bisa langsung tancap gas melayani masyarakat

Sejak era BUUD dan KUD Jember merupakan kabupaten dengan jumlah koperasi terbanyak di Jawa Timur.  Pada awal tahun 90 an jumlah koperasi semakin banyak dengan adanya kebijakan pusat untuk memperbesar kuantitas bukan kualitas.  Banyak institusi digerakkan untuk membentuk koperasi baik lembaga pemerintah maupun swasta.  “Booming” koperasi semakin besar pada kurun waktu 1998-1999 ketika pemerintah memberikan fasilitas kredit program KUT dan sejak saat itu juga dimulailah potret buram koperasi dimana subsidi telah berubah menjadi racun

Banyak orang kurang tertarik ketika saya berbicara tentang koperasi.  Ada yang secara ekstrim mengatakan bahwa “membangun koperasi berarti membangun antipati terhadap koperasi”.  Koperasi identik dengan berbisnis kolegial yang dilakukan secara konvensional.  Koperasi identik dengan persepsi bahwa yang sejahtera adalah para pengurusnya.  “KUT” diplesetkan sebagai Ketua Untung Terus atau “KUD” diplesetkan sebagai Ketua Untung Duluan.  Semakin banyak anggota akan semakin sulit untuk menyamakan persepsi dan banyak hal (terutama keuangan) yang HIDDEN atau disembunyikan.  Sulit untuk membangun transparansi sebagai salah satu persyaratan Good Coorporate.  Itu semua adalah hal-hal yang muncul ketika saya berdiskusi dengan banyak kalangan termasuk “pacapa”  dengan “man on the street”

Tugas kedinasan memberikan hikmah yang luar biasa pada saya untuk memposisikan koperasi dalam logika berpikir saya yang objektif.  Road show RAT (Rapat Anggota Tahunan) pada musim RAT  membuat saya semakin paham bahwa koperasi adalah institusi ekonomi yang unik.  Ternyata mengurus koperasi jauh lebih sulit daripada mengurus perusahaan.  Mengurus perusahaan mungkin hanya diperlukan kemampuan profesional, yang penting target margin tercapai, selesai.  Tetapi mengurus koperasi selain diperlukan kemampuan profesional juga diperlukan kemampuan mengawal demokrasi.  Biasanya hal terakhir inilah yang paling berat, mungkin hal ini juga yang menjadi faktor penentu seleksi alam.  Tidak sedikit forum RAT sebagai agenda mengawal demokrasi menjadi arena “menghabisi” para pengurusnya.  Pernah disatu forum RAT sebuah BUMN saya menyarankan kepada jajaran pemimpinnya untuk memilih ketua koperasi sebagai salah satu calon manajer area karena keberhasilannya memimpin koperasi

Salah satu tugas pokok Dinas Koperasi UMKM adalah menerbitkan Badan Hukum Koperasi. Sejak 2005-2012, saya selaku kepala dinas telah menerbitkan 634 Badan Hukum koperasi.  Sehingga jumlah total koperasi di Kabupaten Jember sampai dengan Agustus 2012 adalah sebanyak 1.757 unit dengan jumlah koperasi yang tidak aktif sebanyak 572 unit koperasi

Pada akhir tahun 2005, melalui PAPBD 2005 Dinas Koperasi UMKM mengembangkan inovasi Pemberdayaan Usaha Mikro Rumah Tangga Miskin (PUM-RTM) sebagai salah satu best practices pengentasan kemiskinan yang berfokus pada kemandirian dan sustainabilitas

Kegagalan berbagai kebijakan hingga ke tingkat proyek pengentasan kemiskinan di Indonesia selama ini diantaranya disebabkan oleh konsep pemberdayaan yang sejatinya belum menjadi tradisi pemerintah. Kita belum terbiasa dengan kultur pemberdayaan yang kontinyu.  Pemberdayaan diintepretasikan identik dengan kegiatan proyek. Aktivitas pemberdayaan berhenti setelah bantuan diserahkan kepada kelompok sasaran, artinya pemberdayaan cenderung bersifat parsial dan diskontinyu. Pemberdayaan pola proyek dapat menimbulkan rasa apatis masyarakat, matinya jiwa entepreneurship dan ketergantungan masyarakat yang semakin kuat kepada pemerintah

Dalam perspektif ekonomi, kemiskinan merupakan masalah struktural yang harus diatasi secara struktural juga.  Kalau ada lembaga keuangan yang dapat membiayai  usaha keluarga mampu / sejahtera, maka harus ada lembaga keuangan yang dapat membiayai usaha keluarga miskin agar ekonomi ini menjadi lebih adil. Fakta bahwa keluarga miskin merupakan lahan garapan para rentenir yang “empuk” adalah fenomena yang umum terjadi. Rentenir sudah sedemikian menggurita sampai ke dusun-dusun terpencil, dan  ketika keluarga miskin terjerat rentenir, maka margin usahanya hanya cukup untuk makan dan membayar hutang dengan bunga yang sangat tinggi. Fakta ini mengindikasikan bahwa kemiskinan diciptakan oleh institusi yang mengitarinya

Pemiskinan struktural  sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam.  Sampai saat ini belum ada satupun lembaga keuangan formal yang secara khusus membiayai usaha mikro keluarga miskin.  Kebutuhan modal Rp. 100 ribu  sampai dengan Rp.  1 juta  bagi usaha mikro masih belum sepenuhnya dapat dilayani oleh lembaga keuangan formal. Tidak perlu ada yang dipersalahkan dengan lembaga keuangan formal karena mereka bekerja atas dasar aturan sebagai konsekwensi pengelolaan dana masyarakat yang memerlukan kehati-hatian. Akan tetapi mimpi kehadiran bank atau lembaga keuangan untuk keluarga miskin yang tidak berbasis pada kontrak legal melainkan berbasis pada kepercayaan, ternyata dirasakan  perlu untuk dapat direalisasikan

PUM-RTM adalah inovasi dirancang secara khusus dalam rangka peningkatan pendapatan keluarga dengan mengembangkan usaha mikro sebagai alternatif usaha sampingan, berbasis pada penguatan institusi, berorientasi pada keberlanjutan usaha serta menyentuh langsung wajah keluarga miskin.  Kegiatan PUM-RTM terdiri dari 3  tahap yaitu tahap penguatan institusi tahap penguatan modal usaha dan tahap peningkatan keterampilan.  Ketiga aktivitas  tersebut merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.  Aktivitas penguatan modal usaha dilaksanakan setelah penguatan institusi dilakukan secara benar

Selama kurun waktu 2005-2012, Dinas Koperasi UMKM telah membentuk dan mengembangkan 299 unit LKMM (Bank Gakin) yang tersebar di 299 dusun.  Dari 299 unit LKMM tersebut telah meningkat statusnya menjadi koperasi wanita sebanyak 28 unit sehingga total LKMM tinggal 271 unit yang tersebar di 271 dusun. Meskipun demikian, ada 7 LKMM yang tidak aktif setelah operasional selama 3 tahun

Dalam perspektif psikologis, saya merasa tenang karena bantuan hibah dari pemerintah kabupaten yang difasilitasi Dinas Koperasi UMKM untk mengembangkan Bank GAkin selama 2005-2012 sebesar Rp.6,9 miliar, saat ini terus berkembang dengan outstanding Rp.6,1 miliar, saldo tabungan Rp. 600 juta dan telah melayani kredit mikro bagi para pengusaha mikro keluarga miskin sebanyak lebih dari 24.000 orang alhamdulillahhirobbilalamiin.  Inilah yang membuat saya tenang dan merasakan ketenangan batin yang luar biasa, meskipun saya sadar masih banyak kekurangan yang ada selama saya memimpin Dinas Koperasi UMKM

Saya merasa senang ketika DPRD dan Bupati sepakat, meski kesepakatannya tidak tertulis, bahwa akan didirikan BANK GAKIN (LKMM) yang akan melayani kredit mikro untuk pengusaha mikro keluarga miskin di seluruh dusun yang ada di Kabupaten Jember sebanyak 1.090 dusun

Saya tidak bermaksud menyombongkan diri, saya hanya ingin sekedar menyampaikan bahwa desain bank gakin (LKMM) telah diakui sebagai best practices dengan beberapa penghargaan yang telah diperoleh seperti otonomi award pada tahun 2006 dengan kategori inovasi pengentasan kemiskinan, penghargaan METROTV MDGS award pada tahun 2008 sebagai kabupaten terbaik dalam pelaksanaan MDGs. Masih ada beberapa penghargaan lain yang tidak perlu saya sebutkan

Saya teringat dengan pernyataan Bpk Krisnayana Yahya pada tanggal 1 April 2008 di Jawa Pos, beliau mengatakan “aid never low poverty and aid is not sustainable, penyediaan kredit mikro tanpa agunan bagi pelaku usaha berbasis komunitas (mikro) adalah tahap awal dari proses kemadirian ekonomi”

Sebagai manusia biasa, sayapun mengalami masa-masa kejenuhan.  Ketika rasa jenuh memenuhi relung hati saya berupaya melawannya, karena kejenuhan akan menurunkan passion dan motivasi bekerja.  Saya juga  teringat  akan saran manajemen lama bahwa salah satu cara untuk membangkitkan kembali motivasi adalah dengan membuat inovasi baru. Pada tahun 2011, saya berhasil membuat konsep inovasi baru dengan membuat pilot project resi gudang yang berbasis pada koperasi tani dengan misi utama menolong para petani ketika harga gabah jatuh disaat panen raya.  Petani bisa melakukan tunda jual dengan menyimpan gabahnya di gudang dan mendapat fasilitas pinjaman modal kerja di koperasi tani dengan jaminan surat (resi) gudang

Pilot Project Resi Gudang telah dilaksanakan sesuai rencana di kecamatan Bangsalsari pada Koperasi Tani KSU Karya Usaha Bersama dengan hasil sebagai berikut :

·         Hibah untuk biaya pengelolaan gudang / simpan pinjam tahun pertama = Rp.  70 juta

·         Hibah modal kerja simpan pinjam                                                                            = Rp. 150 juta

·         Jumlah gabah yang menggunakan fasilitas resi gudang                                  = 287 ton

·         Total nilai pinjaman modal kerja untuk petani                                                    = Rp. 902 juta

·         Jumlah petani yang dilayani                                                                                       = 120 orang

Saya merasa tenang karena inovasi pilot project resi gudang mendapat respon yang baik dari para petani anggota koperasi.  Saya semakin yakin bahwa desain resi gudang dapat dijadikan  alternatif upaya menolong petani ketika harga gabah jatuh pada saat panen raya dan dapat dikembangkan di kecamatan-kecamatan  lain pada tahun-tahun mendatang

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bupati Jember yang telah memberi kesempatan dan amanah kepada saya untuk waktu yang cukup lama  bersentuhan langsung dengan para pelaku ekonomi mikro yang tersebar berbagai wilayah dusun.  Saya telah mendapat banyak pelajaran berharga dari “orang-orang kecil” tentang berbagai cara untuk bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas.   Saya juga tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT yang telah melapangkan jalan saya sebagai PNS yang berupaya untuk professional dalam berbagai situasi



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

.:: Welcome to Mirfano.com ::.