Sabtu, 13 Oktober 2012 - 09:45:07 WIB
ANTARA JEMBER DAN BANYUWANGI
Diposting oleh : Mirfano
Kategori: General Issue - Dibaca: 7393 kali

Lawatan Bupati Banyuwangi Bang Anas ke Jember beberapa hari yang lalu, menjadi perhatian beberapa kalangan untuk membandingkan kemajuan kedua kabupaten secara komparatif. Saya tertarik juga untuk memposting tulisan tetapi bukan untuk maksud mendikotomikan  kedua pemimpin pemerintahannya, melainkan untuk menganalisis data ekonomi yang saya peroleh
 
Mendapatkan data aktual kedua daerah tersebut memang tidak mudah, mulai browsing internet sampai dengan minta bantuan kolega di BPS Jember.  Hsilnya hanya Jawa Timur Dalam Angka Tahun 2010 saja yang relevan dengan hal-hal apa saja yang menarik untuk dianalisa
 
Kita mulai dari kondisi geografis, Banyuwangi memiliki luas wilayah 5.782,50 km2 dengan kawasan hutan yang lebih dominan 31,72% (183 ribu ha) dan kawasan persawahan dan perkebunan mencapai 25,65% (148 ribu ha.  Sedangkan Jember memiliki luas wilayah 3. 293,34 km2 dengan kawasan hutan yang jauh lebih kecil dari Banyuwangi yaitu 71.209 ha dengan total luas sawah 86.000 ha.  Kedua kabupaten ini memiliki karakteristik ekonomi yang sama yaitu didominasi oleh sektor pertanian.  Kontribusi sektor pertanian lebih tinggi di banyuwangi mengingat sumbangan subsektor kehutanan masuk dalam rumpun pertanian 46,63%.  Seingat saya kontribusi sektor pertanian di Jember pada kisaran 44% terjadi dalam kurun waktu 10 tahun yang lalu
 
Pada saat fasilitas bandara di banyuwangi mulai dioperasionalkan, maka kabupaten ini telah memiliki infrastruktur  yang lengkap yaitu moda transportasi dara, laut dan udara.  Kabupaten inipun semakin terbuka aksesnya terhadap informasi, arus barang dan jasa serta akses terhadap berbagai investasi.  Saya menduga, Banyuwangi dapat menjadi Metropolitan Baru di Jawa Timur Bagian Timur seandainya investasi untuk industri kimia, sandang, plastik dan perhotelan mengalir deras ke kabupaten yang terkenal dengan nama Blambangan itu.  Akan tetapi untuk mewujudkan hal itu tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, diperlukan infrastruktur pendukung yang lain yang cukup penting selain dari infrastruktur transportasi. Harus ada daya tarik yang super istimewa agar investor benar-benar berhasrat untuk berinvestasi di Banyuwangi  terutama industri yang padat modal, padat tenaga kerja dan teknologi
 
Lain Banyuwangi, lain Jember.  Jember sangat kecil kemungkinannya dapat membangun pelabuhan karena kondisi pantainya yang berhadapan dengan laut selatan yang menurut informasi dasar lautnya terdiri dari karang terjal dan ombaknya besar. Sepanjang sejarah, baru ada satu kapal laut yang super canggih yang mendarat di "pantai puger" untuk memasang serat optik salah satu perusahaan seluler beberapa tahun yang lalu.  Infrastruktur bandara sebenarnya sudah dibangun akan tetapi belum dapat dioperasionalkan. Jadi, sampai saat ini Jember hanya memiliki satu moda angkutan saja untuk mencapai wilayahnya yaitu moda angkutan darat
 
Meskipun demikian Jember piawai membangun agroindustri. Jember adalah daerah penghasil cerutu terbaik di dunia. Market share untuk tembakau Indonesia tertinggi di dunia dibanding negara-negara lain yaitu 34%. Hebatnya tembakau besuki na-oogst memasok 25% dari total market share tersebut.  Bagi orang Jember tembakau sudah mendarah daging, lambang daerahnya pun ada gambar tembakau dan karena orientasi ekspornya yang sangat kuat, tembakau disebut juga sebagai daun dolar
 
Jember juga penghasil kedele edamame satu-satunya di Indonesia.  Dari 100 ribu ton kebutuhan edamame di Jepang, Jember sudah dapat memasok 3000 ton edamame beku setiap tahunnya.  Agroindustri edamame dikelola oleh perusahaan patungan yaitu PT. Mitra Tani 27, PT. BAHANA VENTURA dan PTPN X dengan omset rata-rata setiap tahunnya mencapai 5 juta USD dan memberikan lapangan kerja sebanyak 12.000 orang.  Menariknya dalam memproduksi edamame beku, perusahaan patungan tersebut bermitra dengan lebih dari 18 kelompok tani plasma
 
Saya bermimpi Jember menjadi daerah industri, tetapi industri pertanian atau agroindustri.  Industri yang bahan baku utamanya dari pertanian sehingga produk pertanian dapat memiliki nilai tambah.  Masalahnya adalah, hasrat orang untuk berinvestasi di agroindustri relatif rendah karena risiko pasar tinggi, bahan baku harus dikawal sejak dari "on-farm" dan produk mudah rusak.  Kalo Jember dan Banyuwangi mau bekerjasama secara G to G untuk mengembangkan agroindustri saya pikir akselerasinya akan semakin cepat
 
Banyuwangi lebih luas dari Jember akan tetapi jumlah penduduknya jauh lebih banyak Jember. jadi cukup rasional bila total PDRB Jember lebih besar dari Banyuwangi, karena salah satu variabel perhitungan PDRB adalah pengeluaran rumah tangga.  Akan tetapi dengan total PDRB yang tidak berbeda jauh, PDRB per kapita Banyuwangi lebih tinggi dari Jember.  Saya tidak bisa menyimpulkan bahwa berdasarkan data 2010 itu penduduk Banyuwangi lebih sejahtera dari penduduk Jember karena mungkin masih ada variabel lain untuk mengukur kesejahteraan seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang telah dikembangkan UNDP sejak lama
 
Saya mencoba untuk menganalisa keunggulan demografis (demographyc dividend) kedua kabupaten tersebut.  Sayangnya saya hanya memiliki data dari buku Jember Dalam Angka 2010, untuk data penduduk Banyuwangi dari internet tidak ada data rinci soal data penduduk berdasarkan usia.  Nah, saya agak khawatir dengan data penduduk usia < dari 24 tahun di Jember, jumlahnya sebanyak 950.065 orang atau sekitar 43% dari total jumlah penduduk.  Artinya, saat ini jumlah penduduk usia produktif di atas 24 tahun sedikit lebih banyak 57% dan dalam kurun waktu 20 tahun ke depan akan terjadi sebaliknya akan banyak aging society atau penduduk usia tua yang hampir dominan di Jember.  Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat produktifitas penduduk Jember di masa depan
 
Berdasarkan data PDRB, Banyuwangi "jagoan" dalam mengembangkan sektor perdagangan hotel dan restoran dengan kontribusi sebesar 26,39% sedangkan Jember sebesar 19,7%.  Secara kasat mata kita bisa melihat hotel-hotel tumbuh tersebar di kecamatan-kecamatan di Banyuwangi karena keunikan sumberdaya alam di Banyuwangi menarik minat wisatawan asing untuk memenuhi perhotelan yang ada. Agak berbeda dengan Jember, perhotelan tumbuh di pusat kota, bahkan ada yang dibangun di sekitar kawasan pendidikan dengan tingkat hunian yang informasinya terus tumbuh
 
Pada sektor jasa, Jember lebih unggul dari Banyuwangi, akan tetapi kontribusi keduanya masih di bawah 15%.  Meskipun masih relatif kecil, sektor ini sangat penting untuk didorong, karena kita tidak boleh  terlalu bergantung pada ktersediaan SDA.  Pertumbuhan sektor jasa menjadi salah satu indikator kreativitas dan kecerdasan penduduk dalam menghasilkan produk jasa yang memiliki nilai ekonomi
 
Pada akhirmya Jember dan Banyuwangi adalah satu kesatuan wilayah ekonomi yang interdepedensi.  Keduanya merupakan simpul strategis sekaligus center of growth wilayah besuki. Kelembagaan pasar tidak akan mampu diintervensi apalagi dikendalikan oleh pemerintah, sehebat apapun bupatinya.  Sudah waktunya Jember belajar bagaimana mengoperasionalkan bandara baru ke Banyuwangi.  Sudah waktunya pula Banyuwangi belajar bagaimana mengembangkan agroindustri semacam tembakau dan kedele edamame yang berkualitas ekspor ke Jember
 
 
 


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

.:: Welcome to Mirfano.com ::.